Lonjakan Covid-19 Jelang Lebaran, Serta Kebijakan Lebaran yang Tak Jelas

  • Whatsapp
Lonjakan Covid-19 Jelang Lebaran, Serta Kebijakan Lebaran yang Tak Jelas
banner 300x250

Havana88 – Mobilitas masyarakat semakin tinggi dan penyebaran virus corona di Indonesia jelang Lebaran 2021 masih belum terkendali. Diduga angka penularan dan munculnya klaster-klaster baru Covid-19 pun diprediksi meningkat.

Belum lama ini, publik dikejutkan dengan pasar dan pusat perbelanjaan di sejumlah daerah penuh sesak oleh pengunjung dan munculnya klaster salat tarawih di Banyumas, Jawa Tengah.

Read More

Perhatian publik kini tertuju pada ramainya kerumunan pembeli dan pedagang di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, parahnya lagi, pengunjung tampak mengabaikan protokol kesehatan sebagai pencegahan Covid-19.

Warga berbondong-bondong pulang ke kampung halaman sebelum dilarang pada 6 Mei 2021, seolah-olah kebijakan larangan mudik tidak digubris oleh masyarakat.

Kepala BPTJ Polana B Pramesti Per Senin (3/5), PT Kereta Api Indonesia mencatat sekitar 11.000 penumpang telah meninggalkan Jakarta. Sedangkan empat terminal yang dikelola Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) juga ikut mencatat adanya pelonjakkan penumpang terhitung sejak April 2021 62,7 persen dengan melayani penumpang sekitar 61 orang rata-rata per harinya.

Trubus berpendapat sulitnya mengendalikan mobilitas warga, juga berhubungan dengan kebijakan pemerintah dalam mengatasi Covid-19 secara setengah hati dan juga tak konsisten. Hal tersebut membuat masyarakat menjadi abai dengan berbagai prokes.

Ia menuturkan bahwa tidak ada sanksi yang tegas bagi masyarakat yang berkerumun di tempat perbelanjaan, atau  juga kepada masyarakat yang memilih mudik. Dalam kebijakan Covid ini dibuat, pemerintah dinilai sangat lemah dari sisi pengawasan, tidak melakukan pengawasan secara ketat dan lemah juga dari sisi penegakan hukum. Dan berujung pada memberi celah masyarakat untuk mudik.

Di lain itu, Hermawan Saputra selaku Epidemiolog dari Universitas Indonesia berpendapat bahwa ini seperti  ada euforia vaksinasi virus corona yang belakangan ini digalakkan oleh pemerintah, di balik masifnya mobilitas warga. Ia menilai hal ini justru merupakan alarm yang harus diwaspadai perihal peningkatan jumlah masyarakat yang terkena Covid-19.

Data Satgas per Senin (3/5) menunjukkan bahwa warga yang telah divaksin tahap pertama lebih dari 12,5 juta orang, meski masih jauh dari target.

Hermawan berpendapat bahwa euforia ini yang membuat masyarakat menjadi abai terhadap prokes serta kebijakan yang diambil pemerintah.

Ia mengharapkan  Satgas dapat bekerja mengawasi tempat-tempat seperti pasar, mal hingga terminal untuk menekan penyebaran Covid-19. Lantas ia juga menganjurkan agar pemerintah dapat melakukan antisipasi pada titik-titik potensial kerumunan seperti itu.

banner 300x250

Related posts

banner 300x250