Kronologi Bocah Tewas Digigit Anjing Tetangga di Medan

  • Whatsapp
Kronologi Bocah Tewas Digigit Anjing Tetangga di Medan
banner 300x250

Havana88 – Bocah 10 tahun, M. Reza Aulia, warga Jalan Sagu Raya, Perumnas Simalingkar A, Desa Mangga, Kecamatan Medan Tuntungan, Sumatera Utara, meninggal dunia setelah digigit anjing tetangga, Kamis (10/6).

Kejadian bermula saat Reza dan teman-temannya sedang jajan di sebuah warung. Saat melewati rumah tetangga yang bermarga Simanjuntak, ternyata anjing tetangga tidak dirantai dan langsung keluar pagar sambil menggigit paha korban.

Read More

“Saat itu pemilik anjing membeli air galon, tukang air datang, pagar terbuka. Kebetulan almarhum lewat dari rumah. Ternyata anjingnya keluar dan langsung menggigit paha almarhum,” kata Oki Adriansyah, kuasa hukum korban, Rabu (16/6).

Usai digigit anjing, Reza tak langsung pulang. Dia masih punya waktu untuk bermain dengan teman-temannya.

Reza kemudian menceritakan kejadian itu kepada kakeknya dan dibawa ke bidan Manurung, yang tidak jauh dari rumah mereka.

Usai pengobatan, keluarga korban bersama kepala lingkungan setempat mendatangi rumah pemilik anjing tersebut. Namun kedatangan mereka tidak disambut dengan baik.

Pemilik anjing, kata Oki, menolak bertanggung jawab dan menantang kasus tersebut dibawa ke pengadilan.

Pemilik anjing tersebut mengaku tidak takut berurusan dengan hukum. Selain itu, ia mengaku bisa membawa Wali Kota Medan Bobby Nasution ke rumahnya.

“Kemudian kami berbincang di depan warkop rumah. Ada Kepling dan ibu dari almarhum. Pemilik anjing itu berkata ‘Siapa yang tidak kenal saya, saya dari Persatuan Batak Bersatu’. Dia bahkan bilang bisa. Bawa saja walikota ke rumahnya. Dia akan menempuh jalur hukum. Mendengar itu, kami memilih pulang,” kata Oki.

Kasus tersebut kemudian dilaporkan ke Polsek Tuntungan dengan nomor pengaduan Sektor STTLP/54/VI/2021/SPKT/Medan Tuntungan pada 11 Juni 2021.

Saat itu, kondisi korban mulai melemah dengan suhu tubuh 39 derajat Celcius.

Korban kemudian dibawa ke Rumah Sakit H Adam Malik Medan untuk dilakukan visum. Setelah dilakukan visum, kondisi korban semakin mengkhawatirkan dan mulai menunjukkan gejala rabies.

Malam itu, Reza bertingkah aneh. Matanya tidak fokus saat melihatnya. Tak hanya itu, air liur terus keluar dari mulutnya. Bocah itu juga mengalami muntah dan diare bahkan kehilangan ingatan.

“Setelah diotopsi, kami kembalikan ke Polsek. Tapi almarhum tidak bisa. Pukul 10 malam, kondisinya memburuk dan hilang ingatan. Tapi saat itu kami tidak tahu itu gejala rabies,” dia menjelaskan. Kemudian pada Sabtu (12/6), Oki dan ibu korban mencari vaksin rabies yang didapat dari Kimia Farma.

“Almarhum dibawa ke poliklinik, tapi sudah tidak bisa jalan lagi, dia jatuh saat turun dari mobil. Setelah divaksin rabies, almarhum dibawa pulang, tapi tidak mau makan, kakinya tidak bisa lagi berjalan, dan dia menjadi hiperaktif, gelisah, dia terus mengeluarkan air liur, “jelasnya.

Pada Minggu (13/6), bocah itu semakin kritis dan akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya pada sore hari. Kemudian kasus tersebut dilimpahkan ke Polrestabes Medan.

Sementara itu, jenazah korban sudah diautopsi di Rumah Sakit Bhayangkara Medan.

“Klien saya orang yang sulit, tapi mereka anggap sepele. Saat ini kami masih menunggu SP2HP (Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan). Kami hanya meminta keadilan. Kami percaya polisi akan bertindak profesional dalam menangani kasus ini, “jelasnya.

banner 300x250

Related posts

banner 300x250