Kasus Pemukulan Aparat ke Wartawan Diberhentikan Polda Metro Jaya

  • Whatsapp
Kasus Pemukulan Aparat ke Wartawan Diberhentikan Polda Metro Jaya
banner 300x250

Havana88 – Polda Metro Jaya secara resmi menghentikan penyidikan kasus dugaan penyiksaan oleh jurnalis CNNIndonesia.com Tohirin saat meliput aksi Omnibus Law pada Oktober 2020.

Dalam Surat Pemberitahuan Proposal Perkembangan Proposal Penyidikan (SP2HP2) disebutkan bahwa hasil Investigasi Bidpropam Subbidpaminal tidak menemukan fakta tentang dugaan penganiayaan.

Read More

“Sejauh ini belum ada anggota Polri yang melanggar disiplin Polri dan Kode Etik Profesi,” bunyi surat yang diterima pekan lalu.

Menurut informasi, Tohirin meliput demo Omnibus Law di Harmoni Simpang, Jakarta Pusat. Saat itu, sejumlah aparat keamanan diduga menyiksa dan merampas ponsel Tohirin yang biasa ia tutupi.

Surat yang ditandatangani Kepala Propam Polda Metro Jaya, Kombes Bhirawa Braja Paksa menyatakan bahwa hasil penyidikan mengungkap fakta penyalahgunaan dan penyitaan ponsel tidak dapat dibuktikan.

Dalam keterangannya juga disebutkan bahwa surat tersebut tidak dapat digunakan untuk proses peradilan, melainkan hanya untuk informasi pelayanan Polri kepada masyarakat.

Diketahui, pada November 2020, Tohirin diperiksa oleh Propam Polda Metro Jaya terkait kejadian tersebut. Sampai surat di atas terbit, tidak ada pemeriksaan lebih lanjut hingga akhirnya pihak Propam menyatakan belum menemukan pelakunya.

Kasus dugaan pemukulan tersebut terjadi saat polisi memukuli kembali pengunjuk rasa yang menolak Omnibus Law di kawasan Simpang Harmoni, Jakarta Pusat.

Meskipun Tohirin telah menunjukkan kartu persnya dan menggunakan rompi pelindung dengan tulisan ‘pers’ tertulis di atasnya, dugaan pemukulan terus berlanjut.

Tohirin yang sendiri berada di barisan polisi tiba-tiba didatangi aparat keamanan yang sedang memukuli sejumlah pengunjuk rasa yang ditangkap.

“Kepalaku dipegang, satu sampai tiga kali, aku lupa. Hp saya disita, dibuka, diperiksa galeri, lalu dibanting. Press ID saya juga diambil lalu dibuang,” kata Tohirin.

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia mencatat jumlah kasus kekerasan terhadap jurnalis mencapai 84 kasus pada 2020. Jumlah ini meningkat dari periode 2019 sebanyak 53 kasus. AJI juga menyatakan, selain kekerasan fisik, serangan digital juga kerap terjadi terhadap jurnalis dalam satu tahun terakhir.

banner 300x250

Related posts

banner 300x250